"apa tujuan mu menikah ?" tanya ustdz sari kepadaku.. betapa gugupnya aku ketika menjelaskan itu.. bagaimana tidak ? anak 19th yg tidak tau apa-apa.. dimintai pendapat yang menurutku itu terdengar konyol..
"biar kalau jalan-jalan ada yang menemani.." jawabku dengan lugu.. memang, selama 19th ak hidup.. belum pernah jalan berdua atau ngedate dg laki-laki.. bukan berarti aku merasa lebih baik dari oranglain.. tapi sampai saat ini, ak benar-benar ingin tahu, bagaimana rasanya ? dan ummi abah ku tidak memberikan izin untuk itu.. oleh karenanya, tujuan menikah paling sederhana dan menyenangkan di kepala usia 19th adalah.. "teman jalan-jalan.." tapi realita nya tidak sesederhana itu.. bahkan jauh lebih rumit.. hari ini, konsep pernikahan masuk dg mudah dipahami oleh ku.. dijelaskan secara gamblang mengenai hukumnya, latar belakang kenapa kita harus menikah dsb.. dan yap, ak menjadi peserta termuda.. bukan karena ak berniat nikah muda.. tapi untuk mengisi kekosongan hati yg tak bisa dijabarkan dalam kata.
setelah refleksi bersama ustdz sari tadi.. ak jadi mengukur tingkat kesiapan ak menikah.. dan ternyata.. ak blm siap :( ak blm selesai dg diri ini, ak blm selesai dg luka pengasuhan yang sedang ak bawa, ak blm cobain banyak hal yang ak mw, ak blm nemu makna hidup sesungguhnya.. emosi ku masi tidak menentu.. spiritual ku juga belum kuat, ak blm siap utk taat sama suami ku (jika ak menikah sekarang) finansial blm stabil, ak blm belajar psikologi laki-laki dan perempuan, ak blm belajar parenting dan masi banyak pertimbangan lagi..
tapi kata ustdz sari dan ummi ku, "menikah itu siap ga siap.." jujur ak blm paham maknanya apa.. kenapa siap ga siap.. justru kl ga siap jangan gasi ? toh juga ada hukum yang mendasari itu.. kalau siap ya gapapa juga.. mungkin, belum fase nya aja..
rabbana hablana min azwajinaa wa dzurriyyatina qurrota a'yun..